Dear Pembaca
BILINGUAL
MEMPERCAYAI UNTUK KONSULTASI MAUPUN
PENDAMPINGAN HUKUM TERHADAP PERMASALAHAN / BENTURAN HUKUM YANG DIHADAPI
KEPADA ADVOKAT YANG MEMPUNYAI PENALARAN HUKUM (LEGAL REASONING) YANG
BAIK.
Pastinya didalam kehidupan mau tidak mau kita akan dihadapkan dengan
permasalahan hukum, baik yang sifatnya hanya sederhana maupun hingga sampai
ke penyelesaian di Pengadilan. Kita pun jika dihadapkan pada posisi tersebut
harus mempunyai strategi agar tidak salah melangkah. Berkonsultasi atau hanya
sekedar meminta advice kepada advokat / penasihat hukum
dirasa perlu untuk mengurangi beban mengenai permasalahan hukum yang sedang
dihadapi. Ada baiknya dalam memutuskan langkah tersebut yakinlah bahwa
advokat / penasihat hukum yang dipilih mempunyai Legal Reasoning (Penalaran
Hukum) yang baik, agar kita pun sudah siap untuk menghadapi permasalahan
hukum tersebut. Seorang advokat / penasihat hukum agar dalam pemberian
jasa-jasa hukumnya dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya kiranya seorang
Praktisi Hukum (advokat) harus mempunyai kemampuan dalam Penalaran
Hukum (Legal Reasoning) yang baik, agar dalam melaksanakan
layanan hukum, dapat memberikan argumentasi atau alasan hukum yang baik dan
jelas.
Adapun
yang dimaksud dengan Legal Reasoning (Penalaran Hukum)
adalah pencarian “reason” tentang hukum atau pencarian dasar
tentang bagaimana seorang hakim memutuskan suatu perkara/kasus hukum yang
dihadapinya, bagaimana seorang advokat memberikan argumentasi hukum dan
bagaimana seorang ahli hukum menalar hukum. Dalam penalaran hukum (legal
reasoning) ada beberapa komponen yang harus diperhatikan yakni ;
1. Akal Sehat
2. Aktivitas Memahami
3. Norma Hukum
4. Realitas Hukum
Dengan adanya legal reasoning (penalaran
hukum) yang baik, seorang advokat / penasihat hukum dapat menganalisa
peristiwa hukum yang dialami oleh klienya. Peristiwa hukum sendiri mempunyai
arti yakni peristiwa kemasyarakatan yang akibatnya diatur oleh hukum.
Penggolongan peristiwa hukum secara sederhana terbagi 2 yakni ;
1. Dilakukan oleh subyek hukum ;
2. Bukan karena perbuatan
subyek
hukum,
Ibarat
rantai yang tidak terputus karena saling berkaitan yakni mengenai penalaran
hukum (legal reasoning), penafsiran hukum dan penemuan hukum. Penalaran
hukum (legal reasoning) merupakan basis aktivitas
intelektual (proses memahami) sedangkan penafsiran hukum merupakan
salah satu metode dari proses pemahaman dan penemuan hukum merupakan
produk dari keduanya. Berdasarkan uraian sebagaimana telah diuraikan di atas
kiranya seorang Praktisi Hukum (advokat) dalam menjalankan profesinya baik
penyelesaian di dalam Pengadilan (litigasi) maupun di luar Pengadilan (non
litigasi) untuk memberikan layanan hukum dengan melakukan legal
reasoning (penalaran hukum) berdasarkan sumber-sumber hukum formal
yang ada, konstruksi hukum yang didasari argumentasi hukum yang baik dan
interpretasi serta penafsiran Hukum.
|
TRUSTING FOR CONSULTATION OR LEGAL COUPLING OF LEGAL PROBLEMS / CONFLICT
WHICH FACED TO ADVOCATES THAT HAVE A GOOD LEGAL REASONING.
Surely, in life we cannot
help but be confronted with legal issues, both of which are only simple in
nature or up to the settlement in court. We also if faced with that position
must have a strategy so as not to make a wrong move. Consultation or just
asking advice from advocates / legal advisors is deemed necessary to reduce
the burden on the legal issues being faced. It's good to decide on this step
to be sure that the advocate / legal counsel chosen has good Legal Reasoning,
so that we too are ready to face these legal issues. An advocate / legal
advisor so that in providing his legal services can be run as well as
possible, a Legal Practitioner (advocate) must have good ability in Reasoning
(Legal Reasoning), so that in carrying out legal services, can provide
arguments or legal reasons good and clear.
What is meant by Legal
Reasoning is the search for "reason" about the law or basic search
for how a judge decides a case / legal case he faces, how an advocate
provides legal arguments and how a legal expert makes sense of the law. In
legal reasoning (legal reasoning) there are several components that must be
considered namely;
1. Common Sense
2. Understanding
Activities
3. Legal Norms
4. Legal Reality
With good legal reasoning, a lawyer / legal advisor can analyze the legal
events experienced by his client. Legal events themselves have the meaning of
social events whose consequences are regulated by law. The classification of
legal events is simply divided into two namely;
1. Performed by legal subjects;
2. Not due to the
actions of
legal subjects,
west of the chain that is
unbroken because it is interrelated namely regarding legal reasoning, legal
interpretation and legal discovery. Legal
reasoning (legal reasoning) is the basis of intellectual activity (the
process of understanding) while the
interpretation of the law is one method of the process of understanding
and discovering the law is a
product of both. Based on the description as described above, a Legal
Practitioner (advocate) in carrying out his profession both in court
(litigation) and outside the court (non litigation) to provide legal services
by conducting legal reasoning based on legal sources existing formal, legal
construction which is based on good legal arguments and interpretation and
interpretation of the Law.
|
R. Rendi Sudendi, SH
Associate Lawyer
Pustaka
Andi Wahyu W "legal reasoning penalaran hukum (basis kesarjanaan hukum terletak pada kemampuan penalaran hukum), materi Pendidikan Kekhususan Profesi Advokat (PKPA) di Fakultas Hukum Universitas Pancasila.
Komari "penalaran hukum (legal reasoning) argumentasi dan perumusan pertimbangan hukum, 2012.
Komari "penalaran hukum (legal reasoning) argumentasi dan perumusan pertimbangan hukum, 2012.
No comments:
Post a Comment